BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sejarah telah menuliskan, bahwa pada masa yang silam
kemajuan peradaban manusia terjadi pada masa kekuasaan Islam di hampir semua
belahan dunia. Disaat di Eropa sedang berada dalam masa kegelapan (the
darkness), di dunia Islam sendiri sedang berada dalam masa kejayaan.
Baghdad dan Cordova merupakan salah satu bukti betapa tinggi dan majunya
peradaban Islam pada masa itu. Pada masa kekuasaan Khalifah Bani Umayyah al
Muntashir di Andaluisa, selain istana-istana yang megah, jalan-jalan sudah
diperkeras dan diberi penerangan pada malam hari, padahal pada saat itu di
London hampir tidak ada satupun lentera yang menerangi jalan, dan di Paris di
musim hujan lumpur bisa mencapai mata kaki.
Dari sisi ilmu pengetahuan, tidak hanya dari kalangan muslim sendiri, orang-orang barat pun telah mengakui, bahwa sebagian besar dasar-dasar ilmu pengetahuan di lahirkan oleh para ilmuwan muslim. Begitu pula dengan masa kebangkitan Eropa yang tidak lepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, dimana para pelajar-pelajar dari Eropa telah dikirim ke Baghdad dan Cordova untuk menggali ilmu pengetahuan di sana. Di bidang-bidang ilmu keIslaman, perkembangan sastra dan bahasa Arab secara meluas terjadi pada masa Umayyah. Selain itu lahir pula ulama-ulama besar.
Oleh karena itu, meneliti kembali sejarah Bani Umayyah
menjadi penting adanya, sebab peradaban masa kini merupakan bagian dari rantai
sejarah yang tidak putus dan dengan meneliti dan memahami sejarah peradaban
Islam pada masa Bani Umayyah II di Andalusia kita akan dapat memetakan rentetan
sejarah peradaban Islam yang merupakan bagian dari rantai evolusi hingga masa
kini.
1.2
Rumusan Masalah
a)
Sejarah terbentuk nya Dinasti Umayyah II di Andalusia ?
b)
Masa pemerintahan Dinasti Umayyah Spanyol ?
c)
Penduduk di Andalusia ?
d)
Pusat-pusat Pendidikan Islam ?
e)
Kemajuan peradaban Bani Umayyah Spanyol ?
f)
Runtuhnya Bani
Umayyah Spanyol ?
g)
Pengaruh peradaban Islam di Eropa ?
1.3
Tujuan
a) Mengetahui Sejarah peradaban Islam pada masa
Umayyah II di Andalusia.
b) Memperluas wawasan tentang kemajuan-kemajuan
peradaban Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah terbentuknya dinasti Umayyah Spanyol
Spanyol/Andalusia
di kuasai oleh umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M) salah
seorang khalifah Daulah Umayah yang berpusat di Damaskus[1]. Bani Umayyah
merebut Spanyol dari bangsa
Gothia pada masa khalifah al Walid ibn ‘Abd al Malik (86-96/705-715).
Penaklukan Spanyol diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawah
pimpinan Tarif ibn Malik pada tahun 91/710. Pengiriman pasukan Tarif dilakukan
atas undangan salah satu raja Gothia Barat, dimana salah satu putri ratu Julian
yang sedang belajar di Toledo (ibu kota Visigoth) telah diperkosa oleh raja
Roderick. Karena kemarahan dan kekecewaannya, umat Islam diminta untuk membantu
melawan raja Roderick. Pasukan Tarifa mendarat di sebuah tempat yang kemudian
diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil, dan Tarifa kembali ke Afrika Utara
dengan membawa banyak Ghanimah. Musa ibn Nushair, Gubernur Jenderal al Maghrib
di Afrika Utara pada masa itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara di bawah
pimpinan Thariq ibn Ziyad. Ekspedisi II ini mendarat di bukit karang Giblartar
(Jabal al Thariq) pada tahun 92/711. Sehubungan Tentara Gothia yang akan
dihadapi berjumlah 100.000 orang, maka Musa Ibn Nushair menambah pasukan Thariq
menjadi 12.000 orang[2].
Pertempuran
pecah di dekat muara sungai Salado (Lagund Janda) pada bulan Ramadhan
92/19 Juli 711. Pertempuran ini mengawali kemenangan Thariq dalam
pertempuran-pertempuran berikutnya, sampai akhirnya ibu kota Gothia Barat yang
bernama Toledo dapat direbut pada bulan September tahun itu juga. Bulan Juni
712 Musa ibn Nushair berangkat ke Andalusia membawa 18.000 orang tentara dan
menyerang kota-kota yang belum ditaklukan oleh Thariq sampai pada bulan Juni
tahun berikutnya. Di kota kecil Talavera Thariq menyerahkan kepemimpinan kepada
Musa, dan pada saat itu pula Musa mengumumkan bahwa Andalusia menjadi bagian
dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Penaklukan Islam
di Andaluisa oleh Thariq hampir meliputi seluruh wilayah bagiannya,
keberhasilannya tidak terlepas dari bantuan Musa ibn Al Nushair[3].
Ketika Daulah Bani
Umayyah Damaskus runtuh pada tahun 132/750, Andalusia menjadi salah satu
provinsi dari Daulah Bani Abbas. Salah satu pangeran Dinasti Umayyah yang
bernama Abd al Rahman ibn Mu’awwuyah, cucu khalifah Umawiyah kesepuluh Hisyam
Ibn Abd al Malik berhasil melarikan diri dari kejaran-kejaran orang-orang Abbasiyah setelah runtuhnya pemerintahan
Bani Umayyah di Damaskus dan menginjakan kaki di Spanyol. Atas
keberhasilannya meloloskan diri ia diberi gelar al Dakhil.
Keberhasilan pemuda 21 tahun itu, merupakan sejarah
menarik dalam sejarah peradaban islam. Dalam pengepungan yang dilakukan oleh
pengikut Abbasyiah, ia berhasil lolos dan bersembunyi dirumah seorang arab
badui ditepi sungai Euffart, akan tetapi para pengepung itu muncul dekat dengan
tempat persenbunyiannya lalu Abdurrahman mencuburkan diri kesungai dan selamat
sampai keseberang. Lolos dari pengepungan itu Abdurrahman ke Spanyol setelah
melewati Palestina, Mesir, dan Afrika Utara selama 5 tahun, tetapi ketika di
Afrika Utara ia hampir dibunuh oleh gubernur setempat.
Kedatangan Abdurrahman di bumi Spanyol disambut baik oleh
penduduk di beberapa kota di bagian selatan, dan menjadikannya sebagai penguasa
mereka. Misalnya, Sidona dan Sevilla. Akan tetapi ada juga penguasa yang tidak
menyukai kedatangan abdurrahman yaitu Yusuf ibn Rahman Al-fihri, gubernur
Spanyol (Andalusia) waktu itu. Ketika Abdurrahman dan pengikutnya ke Coedoba.
Yusuf al-fihri mempersiapkan pasukannya untuk menghadang Abdurrahman, dan kedua
pasukan ini bertemu di Bakkah.
Pada tahun 138/756 al Dakhil berhasil menyingkirkan Yusuf
ibn Abd al rahman al Fihri yang menyatakan diri tunduk kepada dinasti Bani
Abbas, dan sejak saat itu ia memporklamirkan bahwa Spanyol lepas dari kekuasaan
Dinasti Bani Abbas. Al Dakhil memproklamirkan diri sebagai khalifah dengan
gelar amir al mu’minin. Sejak saat itulah babak kedua kekuasan Dinasti
Ummayah dimulai. Pemerintahan Bani Umayyah
Spanyol (Bani Umayyah II) merupakan pemerintahan pertama yang memisahkan diri
dari dunia pemerintahan Islam Dinasti Abbasiyah. Pendirinya adalah
Abdurrahman ad Dakhil bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abd Malik al Umawi.
Karena pengaruhnya
semakin besar dan keadaan berada dibawah kendalinya, maka Abu ja’far al Manshur
( kholifah kedua bani abbasiyah) mengirimkan pasukannya beberapa kali untuk
mengalahkan Abdurrahman. Namun, usahanya untuk mengalahkan Abdurrahman selalu
tidak berhasil. Karena itulah, dia memberinya gelar “Shaqr Quraisy” karena dia
sangat kagum padanya dan akhirnya berhenti memeranginya.
Dengan demikian, maka dimulailah peradaban
Islam baru di Spanyol yang dinamakan Dinasti Umayyah Spanyol (Umayyah II)
2.2
Masa
pemerintahan Umayyah Spanyol
Diantara khalifah - khalifah Umayyah II yang terkemuka diantaranya:






Al Dakhil berhasil meletakan sendi dasar yang kokoh bagi
tegaknya Daulah bani Umayyah II di Spanyol. Pusat kekuasan Umayyah di Spanyol
dipusatkan di Cordova sebagai ibu kotanya. Al Dakhil berkuasa selama 32 tahun,
dan selama masa kekuasaannya ia berhasil mengatasi berbagai masalah dan
ancaman, baik pemberontakan dari dalam maupun serangan musuh dari luar.
Ketangguhan al Dakhil sangat disegani dan ditakuti, karenanya ia dijuliki
sebagai Rajawali Quraisy. Pada masa didirikannya dinasti Umayyah II ini, umat Islam Spanyol mulai
memperoleh kemajuan-kemajuan baik dibidang politik maupun bidang peradaban. Abd
al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota
besar Spanyol. Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran.
Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman
al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga
mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Ausath. Bani Umayyah II
mencapai puncak kejayaannya pada masa al Nashir dan kekuasaannya masih tetap
dapat dipertahankan hingga masa kepemimpinan Hakam II al Muntashir
(350-366/961-976).
Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan
munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesahidan (Martyrdom)[4].
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam
sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota
yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas
membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang
dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga.
Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab
masih sering terjadi[5].
Namun ada yang berpendapat pada masa ini dibagi menjadi
dua yaitu masa KeAmiran (755-912) dan masa ke Khalifahan (912-1013)[6].
Jadi Gelar yang digunakan pada masa dinasti ini adalah Amîr, dan ini tetap
dipertahankan oleh penerusnya sampai awal pemerintahan amir kedelapan Abd al
Rahman III (300-350/912-961). Proklamasi Khilafah Fathimiyyah di Ifriqiyah (297/909,
serta merosotnya kekuatan Daulah Abasiyyah sepeninggal al Mutawakkil
(232-247/847-861) mendorong Abd al rahman III untuk memproklamasikan diri
sebagai khalifah dan bergelar amîr al mu’minîn.[7]
Ia juga menambahkan gelar al Nashir dibelakang namanya mengikuti tradisi dua
khalifah lainnya. Jadi penggunaan khalifah tersebut bermula dari berita yang
sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Muktadir, Khalifah daulah Bani Abbas di
Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilainnya, keadaan ini
menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut.
Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk memakai gelar
khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih.
Karena itulah gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang
memerintah pada masa ini ada tiga orang yaitu Abd al-Rahman al-Nasir (912-961
M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini
umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan
daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd al-Rahman al-Nasir mendirikan universitas
Cordova
Akhirnya pada
tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan
khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil
yang berpusat di kota-kota tertentu.
Kekuasaan Umayyah mulai menurun setelah al Muntashiru
wafat. Ia digantikan oleh putera mahkota Hisyam II yang beru berusia 10 tahun.
Hisyam II dinobatkan menjadi khalifah dengan gelar al Mu’ayyad. Muhammad
ibn Abi Abi Amir al Qahthani yang merupakan hakim Agung pada masa al Muntashir
berhasil mengambil alih seluruh kekuasaan dan menempatkan khalifah dibawah
pengaruhnya. ia memaklumkan dirinya sebagai al Malik al Manshur Billah
(366-393/976-1003) dan ia terkenal dalam sejarah dengan sebutan Hajib al
Manshur.
Kekuasaan Hakim Agung al Manshur diteruskan oleh Abd al
Malik ibn Muhammad yang bergelar al Malik al Mudhaffar (393-399/1003-1009).
Pada masa selanjutnya al Mudhaffar digantikan oleh Abd al rahman ibn Muhammad
yang bergelar al Malik al Nashir li Dinillah (399/1009) dan sejak saat itu
kestabilan politik Umayyah mulai merosot dengan terjadinya berbegai kemelut di
dalam negeri yang akhirnya meruntuhkan dinasti Umayyah.
Keruntuhan Bani Umyyah diawali dengan pemecatan al
Mu’ayyad sebagai khalifah oleh sejumlah pemuka-pemuka Bani Umayyah. Kemudia
para pemuka tersebut bersedia mengangkat al Nashir sebagai khalifah. Akan
tetapi pada kenyataanya dengan turunnya al Mu’ayyad perebutan kursi khilafah
menjadi tidak bias dihindari. Dalam tempo 22 tahun terjadi 14 kali pergantian
khalifah, yang umumnya melalui kudeta, dan lima orang khalifah diantaranya naik
tahta dua kali. Daulah Umawiyah akhirnya runtuh ketika Khalifah Hisyam III ibn
Muhammad III yang bergelar al Mu’tadhi (418-422/1027-1031) disingkirkan oleh
sekelompok angkatan bersenajata.
2.3
Komposisi
Penduduk
Penduduk
Andalusia terdiri dari banyak unsur, antara lain Arab, Barbar, spanyol, Yahudi
dan Slavia. Bangsa Arab dan Barbar datang ke daratan ini sejak masa penaklukan.
orang-orang Arab ini terdiri dari dua kelompok besar, yaitu keturunan Arab
utara atau suku Mudlari dan keturunan Arab Selatan atau suku . Yamani.
Kebanyakan orang Mudlari tinggal di roledo, Saragossa, Sevilla dan valencia,
sedangkan orang-orang yamani banyak bermukim di Granada, cordova, sevilla,
Murcia dan Badajoz. orang-orang Barbar banyak ditempatkan di
daerah-daerah perbukitan yang kering dan tandus di bagian utara negeri ini,
berhadapan dengan. basis-basis kekuatan Nasrani, padahal pada saat yang sama
orang-orang Arab menempati lembah-lembah subur yang jauh dari ancaman
kelompok-kelompok gerilya orang-orang salib itu. oleh karena itu, wajar apabila
dalam beberapa kerusuhan yang timbul salah satu penyebabnya berakar pada
kemarahan orang-orang Barbar yang semakin meluas terhadap penguasa Arab
yang diskriminatif . Ketidakpuasan orang Barbar ini mereda ketika al-
Nashir berkuasa, namun kekecewaan mereka muncul kembali sepeninggal al- Manshur
bin Abi Amir.
Penduduk
keturunan Spanyol terdiri dari:
a) kelompok yang telah memeluk Islam.
b) kelompok yang tetap pada keyakinannya tapi meniru adat kebiasaan
bangsa Arab, baik dalam bertingkah laku maupun bertutur kata: mereka dikenal
dengan sebutan Musta’ribah
c) kelompok yang tetap berpegang teguh pada agamanya semula dan
warisan budaya nenek moyangnya.
Tidak sedikit
pemeluk agama Nasrani yang menjadi pejabat sipil maupun militer dan ada pula
yang bertugas sebagai pemungut pajak. Sebagaimana umat Nasrani, bangsa Yahudi
pun menikmati kebebasan beragama yang cukup luas di bawah kekuasaan Bani
Umayyah II ini. Kelompok lain yang tidak kalah penting dalam kehidupan politik
dan sosial budaya di Andalusia adalah golongan Slavia. Ketika al-Nashir
menyadari bahwa semangat kesukuan Arab yang berlebihan merupakan sumber
perpecahan dan persengketaan, ia melimpahkan kepercayaan kepada kelompok budak
itu untuk dijadikan pengawal di istananya. Mereka dididik dalam bidang
kemiliteran dan diangkat menjadi tentara pemerintah. Menurut al-Maqarri jumlah
mereka di istana al-zahra pada waktu itu mencapai 3750 orang. Ketika al-Manshur
memberi kepercayaan yang lebih besar lagi kepada orang Barbar, orang Slavia
tersingkir dari istana. Oleh karena itu, kelompok ini segera terlibatdalam
pemberontakan tidak lama setelah al-Manshur wafat.[8]
2.4
Pusat-pusat Pendidikan Islam
Pada masa Dinasti Umayyah. Islam
telah tersebar keberbagai daerah di luar Saudi Arabiah, seperti Syiria (Syam),
Irak, Iran, Mesir, Magribi (Maroko) dan telah sampai juga di Andalusia
(Spanyol) tahun 711 M. Perluasan negara Islam bukanlah perluasan dengan
merobohkan dan menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh
ulama-ulama dan guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam.
Dengan tersebarnya Islam keberbagai
daerah tersebut, maka timbul pulahlah pusat-pusat pendidikan Islam, antara lain
:

Guru pertama yang mengajar di
Makkah, sesudah penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal. Ialah yang
mengajarkan Al Qur’an dan mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa
khalifah Abdul Malik bin Marwan Abdullah bin Abbas pergi ke Mekkah, lalu
mengajar disana di Masjidil Haram. Ia mengajarkan tafsir, fiqh dan sastra.
Abdullah bin Abbaslah pembangunan madrasah Mekkah, yang termasyur seluruh
negeri Islam.

Madrasah Madinah lebih termasyur dan
lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi.
Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka. Seperti Abu Bakar, Umar
bin Khatthab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan
lain-lain.

Ulama sahabat yang termasyur di
Basrah ialah Abu Musa Al-asy’ari dan Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari adalah
ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli Al Qur’an. Sedangkan Abas bin Malik
termasyhur dalam ilmu hadis. Al-Hasan Basry sebagai ahli fiqh, juga ahli pidato
dan kisah, ahli fikir dan ahli tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu
agama kepada pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan
mengadakan kisah-kisah di masjid Basrah.

Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan
enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Haris
bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan Abdullah bin
Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah
bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada
Abdullah bin Mas’ud. Bahkan mereka pergi ke Madinah.

Setelah negeri Syam (Syria) menjadi
sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri
Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk
Syam, yaitu Abdurrahman Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan
Abu-Hanafiah. Mazhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan Andalusia. Tetapi
kemudian mazhabnya itu lenyap, karena besar pengaruh mazhab Syafi’I dan Malik.

Setelah Mesir menjadi negara Islam
ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di
Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, yaitu di Fisfat (Mesir lama). Ia ahli
hadis dengan arti kata yang sebenarnya. Karena ia bukan saja menghafal
hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi S.A.W., melainkan juga dituliskannya
dalam buku catatan, sehingga ia tidak lupa atau khilaf meriwayatkan hadis-hadis
itu kepada murid-muridnya. Oleh karena itu banyak sahabat dan tabi’in
meriwayatkan hadis-hadis dari padanya.[9]
2.5
Eksistensi bani Umayyah Spanyol
Ø Kemajuan
Peradaban Dinasti Umayyah II
Dalam masa lebih dari
tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di
sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya
membawa Eropa dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks. Diantara
kemajuan tersebut diantaranya:
a) Kemajuan
Intelektual.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan
masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan
Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat
Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara
Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada
penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang
berbudaya Arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua
komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap
terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah,
sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol[10].
Perkembangan tersebut meliputi:
I.
Filsafat.
Islam di Spanyol telah mencatat satu
lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan
sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke
Eropa pada abad ke-12. minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai
dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang
ke-5, Muhammad ibn Abd al-Rahman (832-886 M).
Tokoh utama pertama dalam sejarah
filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal
dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama yang kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk
asli Wadi Asa, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari Cordova[11]. la lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari Cordova[11]. la lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama.
Pada abad ke 12 diterjemahkan buku
Al-Qanun karya Ibnu Sina (Avicenne) mengenai kedokteran. Diahir abad ke-13
diterjemahkan pula buku Al-Hawi karya Razi yang lebih luas dan lebih tebal dari
Al-Qanun[12]. Ibnu Rusyd memiliki sikap
realisme, rasionalisme, positivisme ilmiah Aristotelian. Sikap skeptis terhadap
mistisisme adalah basis di mana ia menyerang filsafat Al-Ghazali.[13]
II.
Sains.
Abbas ibn Farnas termasyhur dalam
ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca
dari batu.[14]
Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. la dapat menentukan
waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. la juga
berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya
dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang
obat-obatan. Umm Al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz
adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita. Dan Fisika. Kitab Mizanul Hikmah (The
Scale of Wisdom), ditulis oleh Abdul Rahman al-Khazini pada tahun 1121, adalah
satu karya fundamental dalam ilmu fisika di Abad Pertengahan, mewujudkan “tabel
berat jenis benda cair dan padat dan berbagai teori dan kenyataan yang
berhubungan dengan fisika.
Dalam bidang sejarah dan geografi,
wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari
Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan
Sicilia dan Ibn Bathuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan
Cina. Ibn Khaldun (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun
dart Tum adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat
tinggal di Spanyol yang kemudian pindah ke Afrika.
III.
Fiqih.
Dalam bidang fikih, Spanyol dikenal
sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini disana adalah
Ziyad ibn Abd al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya
yang menjadi qadhi pad masa Hisyam ibn Abd al-Rahman. Ahli-ahli fikih lainnya yaitu
Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.[15]
IV.
Musik dan kesenian.
Seni musik
Andalusia berkembang dengan datangnya Hasan ibn Nafi’ yang lebih dikenal dengan
panggilan Ziryab. Ia adalah seorang maula dari Irak, murid Ishaq al Maushuli
seorang musisi dan biduan kenamaan di istana Harun al Rasyid. Ziryab tiba di
Cordova pada tahun pertama pemerintahan Abd al Rahman II al Autsath.
Keahliannya dalam seni musik dan tarik suara berpengaruh hingga masa sekarang.
Hasan ibn Nafi’ dianggap sebagai peketak pertama dasar dari musik Spanyol
modern. Ialah yang memperkenalkan notasi do-re-mi-fa-so-la-si. Notasi tersebut
berasal dari huruf Arab. Studi-studi musikal Islam, seperti telah diprakarsai oleh
para teoritikus al-Kindi, Avicenna dan Farabi, telah diterjemahkan ke bahasa
Hebrew dan Latin sampai periode pencerahan Eropa. Banyak penulis-penulis dan
musikolog Barat setelah tahun 1200, Gundi Salvus, Robert Kilwardi, Ramon Lull,
Adam de Fulda, dan George Reish dan Iain-lain, menunjuk kepada terjemahan Latin
dari tulisan-tulisan musikal Farabi. Dua bukunya yang paling sering disebut
adalah De Scientiis dan De Ortu Scientiarum.
V.
Bahasa dan sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa
administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh
orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan
bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab,
baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn
Sayyidih, Ibn Malik pengarang Alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali
Al-Isybili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.
Pada permulaan abad IX M bahasa Arab
sudah menjadi bahasa resmi di Andalusia. Pada waktu itu seorang pendeta dari
Sevilla menerjemahkan Taurat kedalam bahasa Arab, karena hanya bahasa Arab yang
dapat dimengerti oleh murid-muridnya untuk memahami kitab suci agama mereka.
Hal seperti itu terjadi pula di Cordova dan Toledo. Menurut al Siba’i pada saat
itu tidak jarang dari penduduk setempat yang beragama Nashrani lebih fasih
berbahasa Arab daripada (sebagian) bangsa Arab sendiri.[16]
Berikut ini nama-nama ilmuwan beserta bidang keahlian
yang berkembang di Andalusia masa dinasti Bani Umayyah :
No
|
Nama
|
Bidang
Keahlian
|
Keterangan
|
1
|
Abu Ubaidah
Muslim Ibn Ubaidah al Balansi
|
Astrolog ,
Ahli Hitung
Ahli gerakan
bintang-bintang
|
Dikenal
sebagai Shahih al Qiblat karena banyak sekali mengerjakan penetuan
arah shalat.
|
2.
|
Abu al Qasim
Abbas ibn Farnas
|
Astronomi
Kimia
|
Ilmi kimia,
baik kimia murni maupun terapan adalah dasar bagi ilmu farmasi yang erat
kaitannya dengan ilmu kedokteran.
|
3
|
Ahmad ibn
Iyas al Qurthubi
|
Kedokteran
|
Hidup pada
masa Khalifah Muhammad I ibn abd al rahman II Ausath
|
4.
|
Al Harrani
|
||
5.
|
Yahya ibn
Ishaq
|
Hidup pada
masa khalifah Badullah ibn Mundzir
|
|
6.
|
Abu Daud
Sulaiman ibn Hassan
|
Hidup pada
masa awal khalifah al Mu’ayyad
|
|
7
|
Abu al Qasim al Zahrawi
|
Dokter Bedah
Perintis ilmu
penyakit telinga
pelopor ilmu
penyakit kulit
|
Di Barat
dikenal dengan Abulcasis. Karyanya berjudul al Tashrif li man ‘Ajaza ‘an al
Ta’lif, dimana pada abad XII telah diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan
dicetak ulang di Genoa (1497M), Basle (1541 M) dan di Oxford (1778 M) buku
tersebut menjadi rujukan di universitas-universitas di Eropa.
|
8
|
Abu Marwan
Abd al Malik ibn Habib
|
Ahli sejarah,
Penyair dan ahli nahwu sharaf
|
salah satu
bukunya berjudul al Tarikh
|
9
|
Yahya ibn
Hakam
|
Sejarah,
Penyair
|
|
10
|
Muhammad ibn
Musa al razi
|
Sejarah
|
wafat
273/886. Menetap di Andalusia pada tahun 250/863
|
11
|
Abu Bakar
Muhammad ibn Umar
|
Sejarah
|
Dikenal
dengan Ibn Quthiyah , Wafat 367/977 dan Bukunya berjudul Tarikh Iftitah al
Andalus
|
12
|
Uraib ibn
Saad
|
Sejarah
|
Wafat
369/979, Meringkas Tarikh al- thabari, menambahkan kepadanya tentang al
Maghrib dan Andalusia, disamping memberi catatan indek terhadap buku
tersebut.
|
13
|
Hayyan Ibn
Khallaf ibn Hayyan
|
Sejarah &
sastra
|
Wafat
469/1076, Karyanya : al Muqtabis fi Tarikh Rija al Andalus dan al Matin.
|
14
|
Abu al Walid
Abdullah ibn Muhammad ibn al faradli.
|
Sejarah
Penulis
biografi
|
Lahir di
Cordova tahun 351/962 dan wafat 403/1013. Salah satu karyanya berjudul Tarikh
Ulama’i al Andalus
|
Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat pada masa
Umayyah tidak terlepas dari kecintaan dan hasrat yang tinggi terhadap ilmu
pengetahuan, tidak hanya dikalangan penduduk akan tetapi juga terlebih di
kalangan penguasa. Pada masa al Muntashir terdapat tidak kurang dari 800 buah
sekolah, 70 perpustakaan pribadi disampin perpustakaan umum.[17]
b)
Kemegahan
bangunan fisik
Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat
Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan
pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru
diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya.
Dam-dam, kanal-kanal, saluran sekunder, tersier, dan jembatan-jembatan air
didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu, juga mendapat jatah air.
Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk
tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air, waduk (kolam)
dibuat untuk konservasi (penyimpanan air). Pengaturan hidrolik itu dibangun
dengan memperkenalkan roda air (water wheel) asal Persia yang dinamakan na’urah
(Spanyol: Noria). Di samping itu, orang-orang Islam juga memperkenalkan
pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun, dan taman-taman.[18]
Di samping pertanian
dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam, Di antaranya adalah tekstil, kayu,
kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar.
Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling
menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Di
antara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota Al-Zahra, Istana
Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana Al-Makmun, masjid Seville, dan istana Al-Hamra di
Granada.
Ø Faktor-faktor Pendukung Kemajuan.
Spanyol Islam, kemajuannya sangat
ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu
mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil,
Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap
penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga, mereka ikut berpartisipasi
mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang Kristen, sebagaimana
juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai
dengan ajaran agama mereka masing-masing.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk,
terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya
toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan
menyumbangkan kelebihannya masing-masing.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di
Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak
selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana
mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil
membawa buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun umat
Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat api yang disebut
kesatuan budaya dunia Islam.[19]
2.6
Runtuhnya
Dinasti Bani Umayyah Spanyol
1. Konflik Islam dengan
Kristen
Para
penguasa Muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa
puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan
membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki
tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata.38 Namun demikian, kehadiran
Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal
itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari
pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen
memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.[20]
2.
Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain, para mukalaf diperlakukan sebagai orang Islam
yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di
Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10
M, mereka masih memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para mukalaf itu,
suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis
non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu
mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal
ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, di
samping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.[21]
3.
Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa
membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”,
sehingga lalai membina perekonomian.[22]
Akibatnya
timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik
dan militer.
4. Tidak Jelasnya
Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal
ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Bahkan, karena inilah
kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk Al-Thawaif muncul. Granada yang
merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Ferdinand
dan Isabella, di antaranya juga disebabkan permasalahan ini.[23]
5.
Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain.
la selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dan Afrika Utara.
Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung
kebangkitan Kristen di sana.[24]
2.7
Pengaruh Peradaban Islam di Eropa
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa
menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun
perekonomian, dan peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan
kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan
negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di
samping bangunan fisik.[25]
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada
abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.[26]
Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn
Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar
di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova,
Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka
aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat penerjemahan
itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan
universitas yang sama. Universitas pertama eropa adalah Universitas Paris yang
didirikan pada tahun 1231 M tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di
akhir zaman Pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam
universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas
Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat.
Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah
pemikiran Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.[27]
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah
berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali
(renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran
Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang
dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin.[28]
BAB III
ANALISIS
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan pada
periode Islam klasik. Andalusia mencapai puncak keemasannya.Banyak prestasi
yang mereka peroleh bahkan pegaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada
kemajuan yang lebih kompleks, Andalusia juga dikatakan mampu menyaingi Baghdad
yang ada di timur. Banyak orang Eropa mendalami studi di
Universitas-Universitas Islam disana. Ketika itu bisa dikatakan, Islam telah
menjadi guru bagi orang Eropa. Selama delapan abad, Islam pernah berjaya di
bumi Eropa (Andalusia) dan membangun peradaban yang gemilang. Namun peradaban
yang di bangun dengan susah payah dan kerja keras kaum Muslimin itu, harus
ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di
kalangan kaum Muslimin sendiri dan karena keberhasilan Bangsa Barat atau Eropa
bangkit dari keterbelakangan. Kebangkitan yang meliputi hampir semua element
peradaban, terutama di bidang politik yakni dengan dikalahkannya kerjaan-kerajaan
Islam dan bagian dunia lainnya sampai kemajuan di bidang science dan teknologi.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Islam masuk ke
Andalusia pada tahun 93 H (711 M) dibawah pimpinan Tariq bin Ziyad. Ketika
Dinasti Umayah dipegang oleh Khalifah al- Walid bin Abdul Malik. Kedatangan
umat Islam ke Andalusia ini membawa perubahan besar terhadap peradaban di
Andalusia, baik dari segi Politik maupun Intelektual.
Pola
pendidikan Islam pada masa Dinasti Umayah di Andalusia ada dua lembaga
pendidikan, yaitu : yang pertama lembaga pendidikan Kuttab (lembaga pendidikan
dasar) yang biasanya dilakukan dirumah-rumah dan yang kedua lembaga pendidikan
tinggi (Universitas). Adapun universitas yang
terbesar adalah universitas Cordova yang di bangun oleh Al-Hakam. Universitas
ini sangat terkenal diantara jajaran lembaga pendidikan tinggi lainnya didunia.
Universitas Coedova menandingi dua Universitas lainnya yaitu Al-Azhar di Cairo
dan Nizhamiyah di Bagdhad, dan telah menarik perhatian para pelajar tidak hanya
dari Spanyol ( Andalusia), tetapi juga dari Negara-negara Eropa lainnya, Afrika
dan Asia.
Kemajuan Intelektual di
Andalusia ini tidak terlepas dari besarnya dukungan yang diberikan oleh para
penguasa pada saat itu yang dipimpin oleh khalifah Islam. Kemajuan intelektual
ini telah membawa dampak yang begitu besar terhadap peradaban di spanyol
(Andalusia), yang menjadikannya unggul dan terkenal di seluruh penjuru dunia
pada saat itu.
Masuknya
islam membawa kemajuan dalam bidang pengetahuan yaitu:
Ø Filsafat
Ø Sains
Ø Bahasa
Sastra dan Musik
Ø Sejarah
dan Geografi
Ø Fiqh
Ø Kemajuan Pembangunan Fisik
Ada
beberapa faktor penyebab kemunduran yang akhirnya membawa kehancuran islam di
spanyol:
Ø Konflik antara Islam dan kristen
Ø Tidak adanya ideologi pemersatu
Ø Keterpencilan
Ø Kemerosotan Ekonomi
Ø Sistem Peralihan Kekuasaan yang tidak Jelas
4.2
Saran
Demikianlah isi dari makalah kami, yang menurut kami telah kami susun secara sistematis agar
pembaca mudah untuk memahaminya. Berbicara mengenai sejarah, maka sejarah
merupakan ilmu yang tidak akan pernah ada habisnya. Ingatlah, orang yang cerdas
adalah orang yang belajar dari sejarah.
Sering kali kita lupa bahwa meskipun berkisah mengenai
masa lampau, tapi sejarah begitu penting bagi perjalanan suatu bangsa. Melalui
sejarah, kita belajar untuk menghargai perjuangan para pendahulu kita, belajar
menghargai tetes darah dan keringat mereka untuk apa yang kita nikmati saat
ini. Lewat sejarah kita juga belajar dari pengalaman masa lalu, dan
menjadikannya sebagai modal berharga untuk melangkah di masa depan
Islam merupakan agama yang besar dengan perjalanan
sejarah yang panjang. maka dari itu, marilah kita menggali lebih jauh lagi
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sejarah Islamiah. Demi menguatkan keteguhan dan
rasa kebanggaan hati kita terhadap agama Islam yang kita peluk ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Al-Usayri, Sejarah Islam,
Jakarta: Akbar, 2004
Ahmad Salabi, Mausu’ah al Tarikh wa al Hadlarah al
Islamiyah, Kairo: Al-Maktabah al Misriyah, 1982
Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Gravindo
Persada,
2003.
Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004
Jurji Zaidan, Tarikh al-Tamaddun al-Islami, juz III,
Kairo: Dara l-Hilal, 1993
K. Bertens, Ringkasan Sejarah
Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1986
Lutfi abd al-Badi, al-Islam fi Isbaniya, Kairo:
Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1969
Masjid fakhri, Sejarah Filsafat
Islam, Jakarta:
Pustaka jaya, 1986
Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual
Barat, Surabaya: Risalah Gusti, 1996
Mustafa as Siba’i, Kebangkitan Kebudayaan Islam, terj.
Nabhan Husein, Jakarta: Media Dakwah, 1987.
Mustafa As-Siba’i, Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok,
Jakarta: Gema Insani Press, 1993
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam
Klasik Jakarta: Penada Media, 2003.
Philip K. Hitti, History of the Arab,
London:
Macmillan Press, 1970
Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa
Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Lesfi, 2004
S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam
kepada Ilmu dan Peradaban Modern Jakarta: P3M, 1986.
Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup
Ibn Rusyd, Jakarta: Bulan Bintang: 1975
http://aannabris.wordpress.com/2013/05/19/peradaban-islam-masa-bani-umayyah-ii-di-andalusia/# 18 September
2014:15.30.
http://rudisiswoyo89.blogspot.com/2013/11/sejarah-pendidikan-islam-pada-masa_12.html# 18 September
2014:15.55.
[2] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa
Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hal., 80
[7] Ahmad Salabi, Mausu’ah al Tarikh
wa al Hadlarah al Islamiyah, (Kairo: Al-Maktabah al Misriyah, 1982), Juz 4, hal.,
59-60.
[10] Lutfi abd al-Badi, al-Islam fi
Isbaniya, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1969), hlm., 38.
[12] Mustafa As-Siba’i, Peradaban
Islam Dulu, Kini dan Esok.(Jakarta: Gema Insani Press, 1993) hlm., 49
[13] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam
atas Dunia Intelektual Barat, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm., 241
[14] Ahmad Salabi, Mausu’ah al Tarikh
wa al Hadlarah al Islamiyah, (Kairo: Al-Maktabah al Misriyah, 1982), Juz 4, hal., 76
[16] Mustafa as Siba’i, Kebangkitan Kebudayaan Islam, terj. Nabhan Husein (Jakarta : Media Dakwah, 1987), hal., 79
[17] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa
Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hal., 96
[22] Lutfi abd al-Badi, al-Islam fi
Isbaniya, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1969), hlm., 25
[26] S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam
kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Jakarta:
P3M, 1986), hlm. 67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar